Cara Menghitung Nilai Wajar Sebuah Saham

nilai wajar saham
Nilai wajar sebuah saham / Fair Value sangat penting untuk diperhatikan oleh para investor terutama untuk investor jangka panjang. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan nilai wajar saham dan bagaimana cara menghitungnya? Perlu dipahami bahwa nilai wajar ini tidak identik dengan nilai buku (book value), dan sifatnya harus objektif.

Nilai wajar membantu investor menentukan apakah harga saham X di pasar sudah terlalu mahal (over value) atau masih murah (under value). Nilai wajar saham selalu menjadi acuan bagi investor jangka panjang dalam mengambil keputusan investasi. Keputusan investasi yang dimaksud adalah apakah ia akan membeli, menjual, atau tidak melakukan apa-apa. Nilai wajar merupakan patokan murah atau mahalnya harga saham. Harga saham dianggap mahal jika lebih besar dari nilai wajarnya. Sebaliknya, sebuah saham akan dianggap murah jika lebih rendah dari nilai wajarnya. Lalu, bagaimana cara menghitung nilai wajar sebuah saham?

Ada banyak metode untuk menghitung nilai wajar saham. Misalnya, dengan Price Earning Ratio (PER), Price Book Value (PBV), dll. Nilai wajar juga bisa dihitung menggunakan strategi Benjamin Graham (bapak Value Investing), yang mengkaitkan nilai wajar dengan dividend pay out ratio. Ada juga yang menghitung nilai wajar saham dengan menggunakan PER absolut. Perhitungan PER absolut ini dikaitkan dengan resiko bisnis perusahaan dan resiko keuangan perusahaan, serta visibilitas pertumbuhan laba.

Dari sekian banyak metode menghitung nilai wajar saham, yang paling sering digunakan adalah pendekatan fundamental seperti BV, PBV, dan PER. Untuk mencari nilai wajar suatu saham, buat perbandingan fundamental antara saham tersebut dengan rata-rata industri yang menjadi benchmark. Misalnya saham X punya BV sebesar Rp2.000 per saham, sedangkan harga di pasar adalah Rp4.500, maka PBV saham X adalah 2,25 kali BV. Pertanyaannya, apakah harga saham X yang sebesar Rp4.500 itu berada pada posisi over value atau malah under value?

Untuk mengetahui apakah saham X over value atau under value, perlu diketahui berapa nilai rata-rata yang menjadi benchmark industri. Artinya, jika PBV industri misalnya 3 kali BV, maka harga saham X tadi masih tergolong murah. Demikian sebaliknya. Jika harga saham X masih ditransaksikan 2,25 kali BV berarti saham tersebut masih tergolong murah dan masih layak dibeli. Demikian ilustrasi tentang nilai wajar saham. Tentu saja nilai wajar saham untuk masing-masing sektor berbeda-beda. Nah, dengan mengacu pada nilai rata-rata industri, akan dengan mudah diperoleh berapa nilai wajar sebuah saham. Begitu juga jika yang dijadikan dasar perhitungan nilai wajar adalah PER, maka harus dibandingkan antara PER sektoral dengan PER saham yang dinilai.

Disadur dari Kultwit tentang Cara Menghitung Nilai Wajar Saham oleh Ellen May
Twitter account: @pakarsaham
Untuk selengkapnya bisa dilihat disini : http://chirpstory.com/li/35680
Cara Menghasilkan uang dengan HP
Posted by: Ilham DC
Ilmu Investasi Updated at: 22.38
Comments
0 Comments

 
PERHATIAN : Untuk mendapatkan update artikel terbaru dari blog Ilmu Investasi, silahkan bergabung melalui Facebook Fans Page - Twitter - Via Feeds - dan Google+ Kami
Kembali ke atas