Manajemen Portofolio Saham

portofolio saham
Sebenarnya apa ya portofolio itu ? Portofolio merupakan kumpulan aset investasi yang kita miliki/dimiliki perusahaan, misalnya properti, deposito, saham, emas, obligasi, dll. Portofolio saham artinya, kumpulan aset investasi yang berupa saham. Baik yang dimiliki oleh perorangan atau oleh perusahaan. Lalu, apa yang disebut dengan manajemen portfolio ya?  

Manajemen portofolio merupakan cara mengelola kumpulan aset/investasi tersebut untuk mencapai tujuan investasi. Salah satu cara mengelola portolio adalah dengan meminimalkan resiko, termasuk dalam investasi saham. Sebelum melakukan manajemen portfolio, sebaiknya kita cek dulu profil investasi masing-masing. Profil orang yang satu bisa berbeda dengan orang lain. Hal ini bisa berpengaruh lho pada pemilihan jenis saham. Untuk itu, sebelum investasi harus memperhatikan COR.

COR adalah Capital, Objective, dan Risk. Masing-masing orang berbeda CORnya. Capital yang kecil sebaiknya digunakan untuk investasi karena kurang likuid untuk trading, selain itu pemilihan saham juga terbatas. Dengan capital kecil juga perlu perhitungkan biaya trading karena otomatis fee akan lebih besar. Nah Objective adalah tujuan. Apa tujuan kita membeli saham ? Kalau tujuannya untuk tabungan anak / dana pensiun, investasi tahunan dengan metode ESP cocok banget untuk kita. Metode ESP sangat simple, profitable, dan fee tidak lebih dari 30 ribu sebulan. Murah ya. Seperti mengelola Reksadana sendiri. ESP adalah metode Equity Savings Plan, membeli saham tertentu secara rutin dalam jumlah lot yang sama. Strategi ESP mirip dengan DCA / Dollar Cost Averaging. Bedanya, jika DCA yang tetap adalah nominalnya, ESP yang tetap adalah lotnya. 

Nah faktor ketiga yang harus diperhatikan sebelum berinvestasi adalah Risk Profile / profil resiko. Artinya apa ya ? Saham adalah investasi yang cukup beresiko apa lagi jika tidak disertai ilmu yang benar. Pasar saham bisa bergejolak dan naik turun dengan cepat, apalagi pasar forex dan komoditas. Kita perlu mengetahui profil resiko sebagai investor, yakni seberapa besar komitmen kita untuk meminimalkan resiko. Perhatikan, yang investasi / trading saham bukan orang yang berani ambil resiko, tapi justru orang yang disiplin membatasi resiko! 

Ada beberapa macam investor berdasarkan risk profile nya. Antara lain Investor Konservatif. Kira-kira seperti apa ya karakternya? Sesuai namanya, Investor Konservatif cenderung menghindari resiko / cari sesuatu yang aman. Investor konservatif biasanya memilih saham dengan fundamental bagus dan menyimpan dalam jangka panjang. Para investor konservatif tidak terlalu suka dengan fluktuasi, dan mereka cenderung cari aman. Strategi income investing - investasi dengan fokus pada pembagian deviden cocok untuk investor konservatif. Saham-saham yang cocok untuk investasi berfokus pada pembagian deviden adalah saham saham BUMN yang paling rajin bagi dividen. 

Level kedua, Investor Moderat yaitu investor yg memiliki tingkat toleransi terhadap resiko lebih tinggi asalkan imbal hasilnya sepadan. Tipe investor moderat kemampuan menanggung resiko sedang, imbal hasil lebih besar dari deposito misalnya (10%-20% per tahun). Tipe investor moderat biasanya melakukan value investing / growth investing. 

Selanjutnya investor agresif. Investor agresif adalah investor dengan tingkat toleransi resiko yang tinggi, mengharapkan imbal hasil investasi yang tinggi. Investor agresif cenderung aktif dan suka melakukan spekulasi beli dan jual saham, cenderung berani. Investor agresif jika tidak dibarengi dengan ilmu dan disiplin yang benar akan mudah menjadi spekulan. 

Jujur dan realistis dengan profil resiko dan tujuan investasi, siap membatasi resiko yang sesuai dengan potensi hasil yang ada. Yang sering terjadi adalah banyak investor ingin mendapatkan untung besar tapi tidak mau membatasi resiko. Padahal didalam investasi berlaku prinsip High Risk High Return. Investasi yang menawarkan imbal hasil tinggi, tentu memiliki resiko. Resiko dalam berinvestasi sejalan dengan tingkat pengetahuan dari pelaku pasar / investor. Semakin teredukasi dan semakin tinggi jam terbang seorang trader / investor, resiko akan mengecil. Semakin kecil rentang waktu investasi, semakin besar resikonya. Oleh karena itu pemula sebaiknya mulai dari investasi panjang dulu. 

Nah, level yang lebih agresif dibanding investor adalah trader, yaitu orang yang berjual beli saham jangka pendek. Position traders melakukan beli dan jual dalam jangka 1-3 bulan, keuntungan berkisar 10-30% per saham. Swing traders melakukan beli dan jual dalam jangka waktu beberapa hari minggu, keuntungan berkisar 1- 5%. Besar kecilnya keuntungan dalam trading bergantung pada trend pasar, pilihan saham,dan tingkat kedisiplinan trader. Bagi trader pemula, sebaiknya mulai dari positioning trading atau dari investasi jangka panjang. Tantangan terbesar dalam trading bukan mencari strategi terbaik tapi bagaimana mengendalikan fear and greed.

Disadur dari Kultwit tentang Manajemen Portofolio Saham oleh Ellen May
Twitter account: @pakarsaham
Untuk selengkapnya bisa dilihat disini : http://chirpstory.com/li/23181

Sangat di rekomendasikan untuk membaca buku "Smart Traders Not Gamblers" yang ditulis oleh Ellen May guna belajar lebih lanjut mengenai cara investasi saham yang baik dan benar.
Cara Menghasilkan uang dengan HP
Posted by: Ilham DC
Ilmu Investasi Updated at: 20.32
Comments
0 Comments

 
PERHATIAN : Untuk mendapatkan update artikel terbaru dari blog Ilmu Investasi, silahkan bergabung melalui Facebook Fans Page - Twitter - Via Feeds - dan Google+ Kami
Kembali ke atas